My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 05/2005

Categories

May 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

« September 2006 | Main | November 2006 »

20 October 2006

Jiwa Rayyan

merekalah jiwa-jiwa rayyan

yang kesedihannya kian berubah menjadi air mata

berbulir-bulir hingga jumlah tak terkira

jiwa rayyyan menebarkan pandangannnya ke segala arah. diambilnya satu-satu cuplikan indah kenangan ramadhan dan ia tanam lekat dalam lubuk kalbunya. satu episode kehidupan, di malam lailatul qadr...

di sudut sana, seorang tua sedang asyik melawan kantuk. di genggamannya, sebuah cahaya sedang memancar, menghidupkan molekul udara di sekitarnya. yang terkesima dengan firman Al Quddus. bergerak teratur membentuk harmoni zikir. sesekali rembulan melongok kepadanya, iri dengan gerak tari temannya yang asyik mentadabburi tilawah.

jiwa rayyan asyik terpekur kemudian menangis. air matanya seakan bergidik mengingat ummat yang akan kembali melecehkan kalam suci. berlalu ramadhan, berlalu pula kalimat-kalimat suci itu tanpa mampu memberi pengaruh dalam jiwa. mereka memuliakan jasadnya tapi menginjak-injak isi kandungannya. mereka mencium lembarannya, tapi meludahi maknanya, seolah tak percaya, ia datang dari Yang Maha Mengatur makhluk-Nya. ramadhan berlalu dan itu berarti tak akan ada lagi suara-suara merdu pengisi surau yang berlomba mengkhatamkannya. ramadhan berlalu, dan itu berarti, dunia akan kembali kering dengan suara-suara bising pengejar harta. Oh.....

merekalah jiwa-jiwa rayyan

yang kerinduannya membekas di jiwa

menjelmakan iman dalam dada

jiwa rayyan kembali menebar pandangan. di pojok sana, sekelompok anak sedang asyik bercengkrama. di hadapannya sebuah pelita sedang menyala dengan terangnya. cahaya demi cahaya mengalir lembut ke  seluruh tubuh yang hadir di halaqah ilmu itu. masuk lewat kepala, mata, hidung, dan telinga. cahaya itu msuk ke dalam hati menumbuhkan keyakinan diri. sesekali terdengar tawa, yang kian memadatkan cahaya itu masuk menjadi ilmu. jiwa rayyyan tersenyum melihat tunas-tunas muda itu lincah memainkan potensi akalnya yang tak terbatas untuk menampung ilmu dari Yang  Maha Tahu. gembira mengetahui ternyata masih ada sekelompok manusia yang mereguk nikmat ilmu.

tapi sejurus kemudian, luruhan air mata kembali menghias. badannya merunduk. menyisakan banyak pertanyaan. sampai sini sajakah episode itu tergelar? sementara, sebentar lagi mereka tak ubahnya orang bebal yang mengubur masa depan dengan suka cita? sampai sini sajakah pemandangan ini menyejukkan? sementara, sebentar lagi kayu dan batu menjadi bahasa bagi kelanjutan risalah, bagi kelanjutan bangsanya? ramadhan berlalu, dan itu berarti generasi mudaku hancur luluh. oh......

merekalah jiwa-jiwa rayyan

yang tekadnya melangit tinggi

kibarkan izzah kerajaan Ilahi

jiwa rayyan kembali menebarkan pandangannya. matanya singgah di mihrab. dilihatnya seorang pemuda sedang mengusap tangisnya. tangannya yang tengadah terkadang jatuh ke muka. badannya terguncang. mulutnya tak pernah berhenti mengeluarkan cahaya, menyebar, membentuk pelindung di sekujur tubuh. di atasnya, sepasukan malaikat mendekat dan mengaminkan do'anya. lama ia berdo'a hingga luruh badannya.

jiwa rayyan terpekur melihat potret dirinya. kini semakin banyak pemuda yang kembali. menyadari hakikat kehidupan dam mulai menemukan jati diri. mereka manghias generasi hari ini yang kering dengan nuansa iman. mengobati umat yang sakit karena lama meninggalkam Rabb nya.

jiwa rayyan tersenyum, dan menerawang jauh ke masa-masa silam. dulu mereka dimusuhi, namun kedatangan mereka semakin disadari laksana air sejuk di tengah sahara. di luar ramadhan, mereka menjadi singa yang siap menghantam kezhaliman. tiap bertemu ramadhan, mereka menjadi rahib-rahib yang menangis takut kepada Tuhannya, dan mengisi masjid-masjid yang mulai ditinggalkan penghuni semunya. beri'tikaf.

dengannya, mereka melepas kepergian ramadhan dengan tekad baja. dengannya, mereka melepas kepergian ramadhan dengan tugas mulia. kepada merekalah nasib berjuta orang digantungkan. merekalah tunas harapan, yang akan menggantikan generasi dungu hari ini. menjawab kegalauan berjuta makhluk yang merindukan Islam. oh.......

merekalah jiwa-jiwa rayyan

yang resah menanti hari

berpisah dengan kekasih tambatan hati

jiwa rayyan kembali membungku jiwanya dengan renungan. diangkat kepalanya tengadah ke atas. dilihatnya cahaya bintang, yang kini langitnya tak lagi berawan. ribuan malaikat datang mendekat dan pergi secepat kilat berlalu lalang dengan riuhnya. laksana pengunjung pasar, mereka menjinjing pahala. melaporkan tanda bahwa hamba-hamba-Nya sedang beribadah.

jiwa rayyan kembali ke peraduan. menutup lembaran kehidupan dengan tenang. sementara di luar, takbir berkumandang mengabarkan datangnya kemenangan. baginya itu adalah panggilan 'kerja' ......

merekalah jiwa-jiwa rayyan

taken from al izzah magz

"sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama rayyan. esok pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu tersebut, dan selain mereka tak ada yang melaluinya. datanglah suatu pertanyaan : 'dimanakah orang-orang yang berpuasa? ' mereka bangun lalu masuk melalui pintu itu. bilamana mereka suadah masuk semuanya, pintu tersebut ditutup hingga tak seorang pun lagi yang dapat masuk" (HR. Bukhari & Muslim)